Kamis, 12 Desember 2019

Musik beda musik pemuda


                                                Musik beda musik pemuda

Beberapa tahun terakhir musisi-musisi indie sangat merajai panggung-panggung di daerah dan kota besar. Hadirnya mereka tentu saja menjadi Tanya, kenapa mereka yang terkenal dengan underground tiba-tiba hadir dimana-mana? Yang biasanya hanya untuk skena-nya, sekarang untuk acara company. Hal ini terjadi karena mayoritas rakyat Indonesia adalah anak muda yang paham media sosial, musisi indie menyebarkan karya mereka melalui media sosial, dan kultur anak-anak muda di Indonesia adalah mengikuti tren, dengan itu sesuatu yang viral dan tiba-tiba muncul di media sosial bisa langsung dikenal dan terkenal.
Oke, tapi kenapa musisi dari non-label bisa digilai seperti musisi-musisi major label. Alas an pertama, para pemuda akan lebih mudah menyukai hal yang relate dengan kehidupan mereka, kebanyakan musisi indie adalah orang yang rebel , kenapa demikian? Karena dengan masuk-nya mereka ke skena indie maka itu adalah sebuah dobrakan atas ketidak setujuan mereka terhadap pen-kapitalisasian musik yang dilakukan oleh Major label. Yang mereka anggap menutup ruang kreasi mereka, karena sering kali major label menginginkan si musisi untuk membuat lagu tentang ”itu-itu” saja. Dengan alasan diatas adalah mengapa musisi indie cenderung melakukan perlawanan melalui karya mereka, bahwa yang dianggap “kurang menjual” oleh major label tidak selalu buruk. Mereka mampu menjual karya-karya nya dengan jumlah yang fantastis entah itu melalui platform digital maupun konvensional. Disinilah para pemuda yang membara merasa relate dengan musisi-musisi indie.
Alasan kedua, pemuda akan lebih menyukai hal yang berbeda dengan lainnya. Dengan itu mereka beranggapan bahwa musik yang diciptakan oleh musisi indie adalah hal beda, yang mereka belum pernah dengarkan disaat yang lalu. Apalagi untuk orang yang baru mengenal musik, mereka akan sangat tertarik dan menganggap dirinya paling beda dan paling rebel. Kebanyakan kedua alasan diatas adalah yang digunakan oleh para pemuda ketika ditanya kenapa mendengarkan musisi indie, selain alasan “karena keren aja” atau “temen juga dengerin”.
Faktanya yang berbeda dari musisi indie dan musisi major label sekarang ini hanya cara pemasaran-nya saja. Isyana yang notabene musisi Major label, mampu membuat karya se-liar Lexicon. Lalu Superman Is Dead di album terakhir-nya yang masih ber-naung di Label besar juga mampu menuliskan lirik kritis dan liar. Jadi ini hanya soal fase, dimana siapapun akan mengalami fase ingin beda, fase ingin melawan, dan fase-fase lainnya.
Mari kita nikmati musik tanpa mendeskreditkan yang berbeda, karena pada dasarnya mereka menggunakan Akor yang sama A-G dan tangga nada Do-si-Do. Mereka akan menciptakan lagu sesuai dengan apa yang  pernah dihadapi dan apa yang pernah didengar, mungkin ada kesamaan dengan kita atau mungkin ada perbedaan. Dukung terus musik Indonesia dengan membeli karya original.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar