Musik beda musik pemuda
Beberapa tahun terakhir
musisi-musisi indie sangat merajai panggung-panggung di daerah dan kota besar. Hadirnya
mereka tentu saja menjadi Tanya, kenapa mereka yang terkenal dengan underground
tiba-tiba hadir dimana-mana? Yang biasanya hanya untuk skena-nya, sekarang
untuk acara company. Hal ini terjadi
karena mayoritas rakyat Indonesia adalah anak muda yang paham media sosial,
musisi indie menyebarkan karya mereka melalui media sosial, dan kultur
anak-anak muda di Indonesia adalah mengikuti tren, dengan itu sesuatu yang
viral dan tiba-tiba muncul di media sosial bisa langsung dikenal dan terkenal.
Oke, tapi kenapa musisi
dari non-label bisa digilai seperti musisi-musisi major label. Alas an pertama,
para pemuda akan lebih mudah menyukai hal yang relate dengan kehidupan mereka,
kebanyakan musisi indie adalah orang yang rebel
, kenapa demikian? Karena dengan masuk-nya mereka ke skena indie maka itu adalah
sebuah dobrakan atas ketidak setujuan mereka terhadap pen-kapitalisasian musik yang
dilakukan oleh Major label. Yang mereka anggap menutup ruang kreasi mereka,
karena sering kali major label menginginkan si musisi untuk membuat lagu
tentang ”itu-itu” saja. Dengan alasan diatas adalah mengapa musisi indie
cenderung melakukan perlawanan melalui karya mereka, bahwa yang dianggap “kurang
menjual” oleh major label tidak selalu buruk. Mereka mampu menjual karya-karya
nya dengan jumlah yang fantastis entah itu melalui platform digital maupun
konvensional. Disinilah para pemuda yang membara merasa relate dengan
musisi-musisi indie.
Alasan kedua, pemuda
akan lebih menyukai hal yang berbeda dengan lainnya. Dengan itu mereka
beranggapan bahwa musik yang diciptakan oleh musisi indie adalah hal beda, yang
mereka belum pernah dengarkan disaat yang lalu. Apalagi untuk orang yang baru
mengenal musik, mereka akan sangat tertarik dan menganggap dirinya paling beda
dan paling rebel. Kebanyakan kedua
alasan diatas adalah yang digunakan oleh para pemuda ketika ditanya kenapa
mendengarkan musisi indie, selain alasan “karena keren aja” atau “temen juga
dengerin”.
Faktanya yang berbeda
dari musisi indie dan musisi major label sekarang ini hanya cara pemasaran-nya
saja. Isyana yang notabene musisi Major label, mampu membuat karya se-liar
Lexicon. Lalu Superman Is Dead di album terakhir-nya yang masih ber-naung di
Label besar juga mampu menuliskan lirik kritis dan liar. Jadi ini hanya soal
fase, dimana siapapun akan mengalami fase ingin beda, fase ingin melawan, dan
fase-fase lainnya.
Mari kita nikmati musik
tanpa mendeskreditkan yang berbeda, karena pada dasarnya mereka menggunakan
Akor yang sama A-G dan tangga nada Do-si-Do. Mereka akan menciptakan lagu
sesuai dengan apa yang pernah dihadapi
dan apa yang pernah didengar, mungkin ada kesamaan dengan kita atau mungkin ada
perbedaan. Dukung terus musik Indonesia dengan membeli karya original.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar